Dunia semakin menggila, manusia semakin rakus, sedangkan aku semakin terlepas dari keduanya. Aku membenci dunia, juga manusianya. Manusia hanya menginginkan bahagia, tapi tidak faham mengenai bahagia dan yang mereka cari hanyalah bahagia. Sedangkan dunia menolak bahagia, aku sendiri adalah korbannya. Dunia adalah ujian, dengan terget omong kosong itu, dan semakin menggila saja aku ketika memikirkan target bodoh tersebut.
Aku benci untuk menarik cermin besar di kamar, melihat kembali wajah yang tidak ada manfaatnya, tentang "untuk apa dunia ini ada?".
Satu hari tetap 24 jam, walau bagiku terasa melebihi dari itu. Tidak ada yang dapat dijadikan sandaran, entah itu manusia, lingkungan, bahkan dunia. Aku mengikat diri di ruang sempit, berusaha menjawab tentang fikiran yang melanglang buana di alam rasional. Ketika ku sadar semua itu kubenci, ku kembalikan hasrat tentang emosi ini melalui cermin.
Mengapa harus bercermin? Identitas kita nyatanya berubah, tetapi hanya menutup diri pada kebenaran fiktif yang kita terima untuk diri sendiri. Kita berusaha mencairkan suasana, tetapi suasana tersebut seakan memarahi kita disaat tubuh ini menolak untuk merubah suasana.
Aku benci segalanya. Meski pada akhirnya hanya cermin yang dapat menjawab meski aku sendiri tidak tahu apa yang dijawab olehnya. Cermin adalah sandaranku, dari dunia yang semakin bodoh.
Comments
Post a Comment