Tentang Rumah

Sebuah kunjungan yang tidak perlu menaruh nama dalam kertas, tidak perlu menaruh wajah dibalik kamera, tidak perlu menjadwalkan kunjungan keduanya, itu adalah rumah. Sebuah tempat bernaungnya keluarga di balik hangatnya dinding.

Rumah adalah pijakan, kaki pertama kala aku melihat dunia ini dengan teriakan tangisan, rumah adalah tempat yang akan ku tinggali.

Melihat rumah dan seisinya adalah suatu hal yang akan terus kulihat dengan kedua bola mata ini, arah kemana akan ku tuju ketika aku harus makan, tidur, atau bahkan mandi. Semua terisi, seperti sebuah gelas yang berisikan air.

Tapi terkadang, aku merasa sedih dengan kehadiran rumah. Tempat bernaung itu dijadikan perlarian, untuk orang-orang yang bermasalah dengan kehidupannya setelah pagar, mereka meneriaki masalah itu seakan seisi rumah harus mendengar keluhannya. 

Rumah mungkin akan mengeluh dengan penghuninya, rumah dibuat sedemikian rupa indahnya, tapi penghuninya tetap saja menangis dibalik bantal hangat. 

Tapi dia bertahan, rumah tetap berdiri kokoh seperti awal ia dibangun. Rumah tetap dengan keberadaannya, dan rumah adalah suatu hal yang paling kuat yang pernah aku lihat.

Selama hidupku yang mulai sedikit kesempatannya ini, aku melihat banyak sekali drama yang dibuat oleh penghuni rumah. Dimulai dari ditinggal, dihina, hingga dihancurkan. Tapi tetap, rumah akan selalu berdiri kokoh dibawah tiang.

Rumah akan selalu menjadi prioritas manusia di bumi ini. Tempat ternyaman akan selalu berada di rumah. Manusia dengan segelintir masalah di hidupnya, akan selalu membawa kebahagiaan ketika berada di rumah.

Rumah akan tetap sama, meski ribuan generasi sudah menghuni di tempat itu.

Untuk rumahku yang sudah ku tempati selama 24 tahun ini, terima kasih untuk semangatnya.  

Comments