Selamat Ulang Tahun.

"Umur bertambah, Jatah hidup berkurang" 

Setelah maghrib berjamaah dirumah, ibuku memelukku. Dan beliau berkata seperti itu di pelukannya. Sekedar pengingat saja kalau kesempatan hidupmu tidaklah lama. 

Semenjak aku hidup di dunia ini, aku tidak merasakan hype-nya ulang tahun yang dimeriahkan. Mungkin semenjak kecil, aku hanya menjadi tamu undangan saja untuk temanku yang sedang berulang tahun. Tapi tidak untukku untuk mengundangnya ketika aku berulang tahun. 

Jujur saja untuk pertama kali aku merasakan kemeriahan tersebut ketika aku sudah berumur 20 tahun. Di saat itu aku sudah duduk di bangku kuliah. Ceritanya singkat, jelas dan padat. Mereka datang membawa kue ulang tahun, menjebakku di tengah perjalanan ke kamar, dan ketika ku buka kamarku, mereka sudah ramai dari dalam. Saat itu aku bahagia kok, aku seperti dikelilingi seorang teman dan mereka terlihat ramah ssekali saat itu denganku. 

Di zaman sekarang ini saja, umurku sudah lebih dari 20 tahun. Kewajibanku sekarang bukanlah untuk mengingat umur yang sudah semakin tua, melainkan tentang apa aja yang sudah kamu lakukan dan akan kamu lakukan di umur ini. Tetapi aku masih saja mengharapkan ucapan demi ucapan yang dari semalam pun tidak kunjung tiba. Bukan berarti aku menginginkan itu, melainkan aku rindu seorang teman yang ramah menebarkan kebahagiaannya di saat temannya itu sedang berada di umur yang mungkin lebih tua dengannya. 

Tapi, dari kali pertama aku membuka mataku di pagi hari. Aku lupa kalau diriku sedang di waktu yang berbahagia, aku terlalu memikirkan keadaan temanku, dan belum tentu mereka mengingatku. Aku harus peduli pada diriku sendiri. Aku harus tetap ingat walau mereka mencintaiku, aku harus tahu pula bahwa aku harus lebih mencintai diriku sendiri.

Selamat Ulang Tahun, Adib.

Comments