Si pemendam rasa pahit.

Salah ga sih kalau aku hidup selama ini tanpa mengeluh? Apa iya dengan tanpa mengeluh ini hidupku akan baik-baik saja? Ah ternyata, tidak. Sangat pahit, kalau aku hanya mengganggap semua itu tidak ada.

Aku mulai mengerti kenapa kalian tak lagi menganggapku menyenangkan. Mungkin karena isi kepalaku yang tak bisa kalian pahami, ya? Bagaimana cara menjelaskannya pada kalian? Hmm, mungkin aku harus menceritaka sebuah kisah agar kalian bisa memahami isi pembicaraanku ini. Kebetulan, aku punya sebuah kisah cinta yang cukup memancing haru dan kesedihanku saat pertama kali mendengarkannya.

Semua berawal dari seorang wanita yang merindukan hujan, kala kotanya tak lagi dibasahi oleh awan gelap dan berair itu, ia hanya bisa berdoa kepada tuhannya dan tak ingin bertutur kepada seseorang yang dekat dengannya.

Hingga akhirnya ia hanya melanjutkan hari-harinya, dengan harapan, sesuatu yang dirindukannya itu datang ditengah kesibukan hidupnya.

Hingga pada akhirnya, ia senangnya bukan main, yang ditunggu, yang selalu didoakan, dan yang ia ceritakan kepada tuhannya akhirnya terkabul, hujan turun dengan lebatnya, tepat pada hari itu musim hujan sudah sudah tiba. 

Tetapi, ia hanya senang sendiri, sedangkan orang-orang tersibuki dengan tibanya hujan, dengan memakai jas hujan, membawa payung, serta berteduh agar hujan tidak membasahinya. Apa yang dirasakan si wanita tersebut? Sepi. Tak beraturan. Dan hanya sendiri. Semua menjadi campur aduk berantakan, dan tak terarah.

Dari kisah ini kita bisa menarik kesimpulan, sepi itu bukanlah jawaban ketika kamu bersedih, banyak cerita yang bisa kamu tuturkan dengan lawan bicaramu. Buatlah komunikasi, sehingga kesedihan itu menjadi sebuah klise yang terbelit dalam otakmu. Lalu, jatuh cinta itu kesalahan, yang membawa kamu pada keterpurukan, cinta itu boleh dirasakan, tapi tidak dengan membawa keterpurukan sehingga membuatmu jatuh dalam cinta yang salah. 

Jangan mencoba untuk memendam perasaan, karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk merekayasa cerita mereka kepada dunia, bukan untuk dirimu sendiri. Cintai dirimu, dan dirinya. 

Comments