Hidup tetap berjalan, tapi kenapa kamu berhenti?

Selamat tahun banjir, untuk semuanya. Musibah melanda ku di awal tahun baru ini, penyakitku tak kunjung membaik, simple sih sakitnya tapi lama kelamaan menjadi beban juga.

Tapi tak apa, yang penting ku bersyukur bisa bertemu murid-muridku lagi, teman-teman, keluarga, dan orang-orang sibuk memikirkan bibit setiap langkahnya.

Tapi pernah ga sih, kalau kalian itu berhenti ketika merasa terpojokkan? Langkah kalian terketuk oleh samping kalian yg seketika mereka lebih cepat? Memang sih, kalian tak peduli dengan itu, wajar. Tapi bagaimana denganku? Aku tak begitu, bagiku semua orang berhak memilih, berhak mengantisipasi, berhak memilah. Semua orang berhak berdiri, berlari, hingga terkapar tengah jalan.

Hidup bukanlah suatu arena perlombaan, dunia itu ada karena kita ditakdirkan untuk berjalan mengelilinya. Dunia berhak men-judge orang yang berhenti berlari, bahkan dunia juga melihat mana orang yang berlari, mana orang yang berjalan.

Roda itu berputar, kala setiap detik dari nafas yang kau hembuskan itu menjadi awal niatmu untuk melihat keramaian. Kamu boleh menjadi ambis, tujuanmu adalah capaianmu, karena kesusksesan seseorang tak akan bisa kita rasakan bersama. Tolak ukur keberhasilan seseorang datang dari dimana awal kamu melangkah. 

Semangat tahun baru, semangat mengejar hari esok, semangat menjadi "hijab" antara yang lalu dan yang sekarang. 

Comments