Ini jadi firasat yang tak terbendung, dari segala kemungkinan yang terjadi aku hanya berandai tentang kesucianmu yang seperti bait tulisan tak berirama. Kisahmu melegenda, seakan orang banyak tau tentang apa yang terjadi pada kisahmu yang tak sepenuhnya ku ketahui. Kehidupanmu di depanku seperti rintik hujan, yang seakan saat malam tiba ia hanya menunda fikiranku yang terbasahi oleh air.
Apa caraku salah? Yang terlalu padamu, apa fikiranku ini merusak sela kehidupanku untuk esok? Hmm tidak juga, hanya saja keindahanmu seakan menaungi segala yang ku tulis di bait cerita ini, atau apalah itu namanya.
Maaf adalah kata suci yang kutulis saat ini, maafkan jikalau caraku salah untuk menjadi pribadi yang baik, tapi inilah aku, pribadi yang sering ku tertawakan dan kusedihkan dalam satu waktu. Semoga tak menjadi konsekuensi yang besar ketika ku sudah mencintaimu. Maafkan, selalu.
Comments
Post a Comment