Apa yang akan terjadi jikalau rasa empatimu
hilang? Akankah pertemanan ini bisa jadi tetap pertemanan? Apakah kekal menjadi
sahabat? Cerita ini mengajarkan untuk cara kita menyikapi ketika kita merasa
kehilangan rasa empati terhadap orang yang kita sayangi dan rebuild apa yang
salah pada diri kita, khusunya tentang apa itu rasa empati.
Fenomena-fenomena ini sebenarnya memang sudah terjadi,
dimulai dari zaman saya masih kecil, saya pun bahkan melakukan hal tersebut.
Rasa empati, rasa yang sebenarnya kalian pun tidak merasakan tetapi kalau
kalian rasakan dan orang lain merasa terpanggil itu memang beda.
Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Rasa empati memang membutuhkan yang namanya mengerti setiap apapun yang terjadi di sekitar kita, dan menuntun kita agar bagaimana menyikapi masalah dari lawan yang menuntun kita pada masalah tersebut.
Dari masalah di atas, banyak yang saya harus tuliskan disini mengingat akan banyak masalah unmoralis yang terjadi di dunia ini, dunia sudah terbalik, seakan murid lebih pintar dari gurunya. Seakan bawahan lebih rajin dan sukses dari bosnya. Apa iya dunia sudah sekejam ini? Bagaimana dengan istilah 'memanusiakan manusia?' Dimana moralitas dari sekian ribu kali tulisan janji siswa yang setiap senin kalian baca?
Intinya kita pintar tidaklah cukup, maka jadilah orang cerdas. Orang cerdas otomatis punya rasa empati. Jangan menganggap rasa empati ini enteng, rasa empati alamiah yang di setiap manusia pasti punya rasa empati, rasa empati itu tidak diajarkan tapi bagaimana kita harus mengerti keadaan dengan sendirinya. Contoh saja jikalau ada dua bayi yang satu bayi itu menangis, pasti sibayiyang satunya akan menangis, karena dari sejak lahirpun kita sudah merasakan rasa empati. Jadi, mengertilah keadaan, mengertilah setiap langkah dan akibat dari orang-orang yang alami, sehingga memunculkan rasa empati, dan akhirnya gerakan otak pun akan selalu kalah dengan gerakan hati.
Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Rasa empati memang membutuhkan yang namanya mengerti setiap apapun yang terjadi di sekitar kita, dan menuntun kita agar bagaimana menyikapi masalah dari lawan yang menuntun kita pada masalah tersebut.
Akhir-akhir ini, banyak orang kurang respect terhadap
lingkungannya. Tetangga pun jadi musuh, hanya karena masalah lahan, ataupun
belum membayar uang iuran rt, membuat renovasi lapangan mereka menjadi
terhambat.
Ingat film Sexy Killer? difilm ini mnceritakan tentang dunia
pertambangan yang dimana menjadikan para orang-orang atas dengan enaknya
membangun pertambangan dan menghancuran kehidupan orang sekitarnya. Ada satu
scene yang dimana saya ingat sekali perkataannya. "yaa namanya musibah
pasti ada orang mati, jadi kita hanya mengucapkan bela sungkawa." yang
intinya seperti itu. Itu adalah empty emphaty, pemimpin dengan nikmatnya
berkata dengan enaknya tentang para korban yang berjatuhan di cerita Sexy
Killer itu. Dimana rasa empatimu? Kenapasih manusia bisa se-egois itu yang
bahkan seorang pemimpin pun dengan lantang ia menjawab pertanyaan media dengan
perkataan seperti itu?
Dari masalah di atas, banyak yang saya harus tuliskan disini mengingat akan banyak masalah unmoralis yang terjadi di dunia ini, dunia sudah terbalik, seakan murid lebih pintar dari gurunya. Seakan bawahan lebih rajin dan sukses dari bosnya. Apa iya dunia sudah sekejam ini? Bagaimana dengan istilah 'memanusiakan manusia?' Dimana moralitas dari sekian ribu kali tulisan janji siswa yang setiap senin kalian baca?
Intinya kita pintar tidaklah cukup, maka jadilah orang cerdas. Orang cerdas otomatis punya rasa empati. Jangan menganggap rasa empati ini enteng, rasa empati alamiah yang di setiap manusia pasti punya rasa empati, rasa empati itu tidak diajarkan tapi bagaimana kita harus mengerti keadaan dengan sendirinya. Contoh saja jikalau ada dua bayi yang satu bayi itu menangis, pasti sibayiyang satunya akan menangis, karena dari sejak lahirpun kita sudah merasakan rasa empati. Jadi, mengertilah keadaan, mengertilah setiap langkah dan akibat dari orang-orang yang alami, sehingga memunculkan rasa empati, dan akhirnya gerakan otak pun akan selalu kalah dengan gerakan hati.
Comments
Post a Comment