Air Tak Melulu Dengan Takdirnya

Aku kira membahas takdir memang tidak selamanya tentang kepatuhan. Selamanya tiap tulang yang menahan gerak gerik makhluk hidup akan ada waktunya berhenti dan selesai dengan pekerjannya. Kiranya membahas takdir tidak selesai pada maknanya, melainkan implementasi dari kata tersebut, yang membuat manusia kerap kali banyak bergantung pada takdir yang melulu baik. 

Jari tangan, bintang, bulan, bahkan sisa kopi dalam minumanpun, manusia bisa bersandar padanya. Ini semacam budidaya takdir. Takdir yang menjadi hal komersil dalam hidup manusia, entah mereka percaya dengannya atau tidak, ku yakin hal ini turut dipercayai dan terus seperti itu. Aku tidaklah menjelekkan hal ini, yang kian masyarakat tahu bahwa kebenaran yang fiktif nyatanya pasti ada, ia mengalir dan sesuatu akan terjadi dan berubah. 

Pembahasanku nyatanya tidak tentang cinta. Hari ini, aku berdiri dan meyakini dalam tulisan kali ini, bahwa cinta pondasinya dan keyakinan adalah bangunannya. Takdir itu ada, semua termaktub dalam suatu kitab yang kuyakini dan menjadi bangunanku. Karena semua berawal dari cinta, terhadap sesuatu yang kian berubah tersebut. 

Keyakinan ini menguatkan semuanya. Meski pada akhirnya takdir bukanlah semacam ejekan belaka ketika seorang teman terkena sial. Takdir menjadi ada dan berjalan dengan kehidupan manusia.

Comments